Kunjungan ke Kota Bersejarah
Tanggal
26 Maret 2015, aku dan teman-teman melakukan PLS yaitu Pembelajaran di Luar
Sekolah. Kami melakukan kunjungan ke Kota Solo. Adapun tempatnya yaitu P.T
Sritex yang terdapat di Kota Sukoharjo dan Museum Sangiran yang terdapat di
Sragen. Perjalanan kami mulai dari sekolah yaitu SMA N 2 Kota Magelang. Kami
berangkat pukul 07.00 WIB. Aku duduk di bus 2 bersama temanku, Fifi Nofia.
Perjalanan kami sangat menyenangkan. Yang lebih menyenangkan yaitu saat kami
bernyanyi bersama di dalam bus dan bercanda tawa. Aku sangat menyukai perjalanan
ini. Kurang lebih jam 09.30 kami sampai di tempat tujuan pertama yaitu
PT.Sritex.
Sritex berasal dari sebuah usaha dagang bernama “Sri Redjeki” didirikan oleh Bapak Lukminto pada tahun 1966 di Pasar Klewer, Solo-Jawa Tengah, Indonesia. Di tahun 1968, usaha dagang kecil ini berkembang pesat dan memproduksi kain kelantang dan celup di pabrik pertamanya di Solo pada tahun 1968. Sritex mengembangkan kapasitas produksinya di tahun 1982 dengan menambah fasilitas pemintalan dan penenunan. Tahun 1982 Sritex mendirikan pabrik Weaving. 10 Tahun kemudian, tahun 1992 mereka memperbesar pabrik dan produksi besar-besaran.
Produk tekstil
PT Sri Rejeki Isman (Sritex) ini diakui telah memenuhi standar North Atlantic
Treaty Organization (NATO) sehingga dipercaya memproduksi seragam militer
anggota NATO. Tidak hanya seragam, tetapi juga seragam tempur, jaket, cover
all, rompi, tenda, sepatu dan lain-lain.
Hingga awal 2010 ini, PT Sritex melayani pembuatan seragam militer untuk 25 negara, yakni, Indonesia, Australia, Brunei, Kamboja, Siprus, Inggris, Jerman, Kuwait, Lebanon, Nepal, Oman, Papua, Filipina, Qatar, Singapura, Somalia, Sudan, Swiss, Arab, Zimbabwe, Austria dan terakhir Timor Leste. Karena masuk pasar ekspor, harga jual produk di luar negeri pun menyesuaikan.
Hingga awal 2010 ini, PT Sritex melayani pembuatan seragam militer untuk 25 negara, yakni, Indonesia, Australia, Brunei, Kamboja, Siprus, Inggris, Jerman, Kuwait, Lebanon, Nepal, Oman, Papua, Filipina, Qatar, Singapura, Somalia, Sudan, Swiss, Arab, Zimbabwe, Austria dan terakhir Timor Leste. Karena masuk pasar ekspor, harga jual produk di luar negeri pun menyesuaikan.
Tahun
2013 lalu Sritex resmi melantai di bursa saham. Mereka mengumumkan laba
perseroan pada 2012 sebesar Rp 229 miliar. Capaian itu mengalami peningkatan
sebesar Rp 68 miliar dibanding tahun sebelumnya.
Sampai
sekarang Sritex mempunyai 25.000 pekerja yang
berusia 20-40 tahun. Sritex pernah memperoleh rekor MURI atas
kedisiplinannya. Setiap tanggal 17, seluruh karyawan Sritex melakukan upacara
bendera. Inilah yang membedakan Sritex dengan pabrik lainnya.
Setelah
kami puas berjalan-jalan di area PT.Sritex, kami melanjutkan perjalanan di Kota
Sragen. Namun sebelum kami ke tempat tujuan yang penuh dengan sejarah ini, kami
menyempatkan diri untuk makan siang bersama dan sholat dhuhur berjamaah di
masjid. Setelah itu kami memulai perjalanan ke Museum Sangiran. Perjalanan
sekitar 1 jam. Sampai disana kami langsung masuk dikarenakan tempat akan segera
ditutup. Kami sedikit kecewa dibuatnya. Bisa dikatakan kami tidak puas belajar
di dalam museum dan melihat-lihat koleksinya. Tapi rasa kecewa itu hilang
ketika kami berkali-kali foto bersama di tempat itu. Setidaknya foto-foto
tersebut akan menjadi koleksi tersendiri di galeri fotoku.
Sangiran
merupakan museum arkeologi yang
terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Museum
ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah
satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs
Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan
Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki
Gunung Lawu (17 km dari kota Solo). Museum
Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik
juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan
terlengkap di Asia, bahkan dunia.
Pada
tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan
Dunia UNESCO.
Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut.
Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut.
Sangiran
merupakan situs terpenting untuk perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan
terutama untuk penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi,
paleoantropologi, geologi, dan tentu saja untuk bidang kepariwisataan.
Keberadaan Situs Sangiran sangat bermanfaat untuk mempelajari kehidupan manusia
prasejarah karena situs ini dilengkapi dengan fosil manusia purba, hasil-hasil
budaya manusia purba, fosil flora dan fauna purba beserta gambaran
stratigrafinya.
Di
Sangiran dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu
hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir
Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba
dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain
itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air,
batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu. Di dalam ruang, terdapat
beberapa ruang pameran yang wajib kita kunjungi dan dipelajari.
Berjalan
menyusuri ruang pamer demi ruang pamer tentu tidak akan lengkap jika kita tidak
membeli sesuatu sebagai kenang-kenangan. Di sebelah Museum Purbakala Sangiran,
di bawah rindang pohon beringin yang bersulur, terdapat kios-kios cinderamata
yang menjual berbagai souvenir menarik. Mulai dari gelang dan rosario dari batu
berwarna-warni, hingga pahatan manusia purba dalam berbagai ukuran. Harganya
berkisar antara belasan ribu hingga ratusan ribu, tergantung kebolehan pembeli
dalam menawar dan memilah barang.
Tak
lengkap jika hanya berjalan-jalan di PT.Sritex maupun Museum Sangiran, kamipun
diantar ke Toko Javiner atau kami kenal sebagai pusat oleh-oleh. Disana kami
membeli banyak barang, mulai dari tas kecil, dompet, kaos khas Solo, maupun
aneka camilan khas kota Solo. Akan tetapi sayang, aku kelamaan dalam memilih
kaos kecil untuk adikku jadi aku kurang puas memilih aneka souvenirnya. Waktu
itu kira-kira jam 8 malam. Setelah kami membeli aneka souvenir disana, kami
melanjutkan perjalanan menuju Kota Magelang. Sebelum back home, kami makan malam terlebih dahulu. Kami makan malam di
tempat yang sama yaitu Restaurant Taman Sari. Menu makan malam kali ini sangatlah
lezat. Tak lupa kami melakukan sholat berjamaah. Setelah puas makan dan selesai
sholat, kami menyempatkan diri berfoto bersama di tempat. Ini yang selalu kami
tunggu. Selain untuk dokumentasi, foto bersama sangat digemari oleh anak-anak
sebayaku. Biasanya mereka mengabadikan beberapa moment dengan melakukan foto
bersama.
Perjalanan
ke Kota Magelang dimulai sekitar pukul 9 malam. Masih seperti tadi, aku duduk
bersama Fifi. Perjalanan pulang lebih menyenangkan dibanding perjalanan
berangkat dari sekolah dikarenakan teman-teman lebih seru saat bernyanyi
bersama. Aku sangat bersyukur, perjalananku tidak ada halangan apapun. Inilah
ceritaku. Hati gembira tidak terkira J .









Subhanallah, allahuakbar, siiiip!
BalasHapusterimakasih pak :)
Hapus